Ummu Ilmi Khumairah
Program Studi Fisioterapi
Universitas Muhammadiyah Malang
Sakit kepala atau dalam istilah medis disebutkan cephalgia merupakan keluhan umum yang terjadi karena rasa nyeri atau ketidaknyamanan pada area kepala, leher, ataupun wajah. Beragam penyebab dapat memicu munculnya sakit kepala, mulai dari stres, kelelahan, kurang tidur, posisi tubuh ataupun duduk yang buruk, dehidrasi, konsumsi kafein berlebihan, hingga ketegangan pada leher atau tengkuk kepala. Sakit kepala sendiri ada berbagai jenis, yaitu TTH, migrain, cluster headache, hipertensi, dan lain-lain. Sakit kepala juga bisa disebabkan karena infeksi serta kondisi kronis seperti hipertensi yang merupakan kondisi ketika tekanan darah dalam arteri meningkat melebihi batas normal secara konstan. Dampak dari sakit atau nyeri kepala sendiri dapat mengganggu aktivitas sehari-hari (membuat produktivitas menurun), gangguan pada tidur membuat kualitas tidur kurang nyenyak atau nyaman, serta mengalami insomnia, dan dapat menimbulkan masalah psikologis seperti merasa cemas, tertekan, dan frustasi dari rasa sakit yang tak kunjung hilang.
Selama ini masyarakat banyak yang mengandalkan obat pereda nyeri sebagai solusi cepat mengatasi sakit kepala, namun kenyataannya obat hanya meredakan gejala dan berpotensi menimbulkan efek samping jika digunakan berlebihan. Karena itulah, diperlukan pendekatan yang lebih aman, efektif, dan menyeluruh seperti fisioterapi hadir sebagai alternatif yang mampu menangani akar penyebab fisik sakit kepala tanpa ketergantungan pada obat. Dengan manfaat jangka pendek maupun jangka panjang yang diberikan, fisioterapi patut dipertimbangkan sebagai pilihan utama dalam penanganan sakit kepala.
Fisioterapi merupakan bentuk upaya pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk pengembalian, pemeliharaan, pemulihan pada gerak dan fungsi tubuh, serta meningkatkan kualitas hidup pada pasien melalui penanganan manual, pelatihan gerakan, serta penggunaan peralatan. Dalam konteks sakit kepala, terutama jenis tension type headache (TTH) dan beberapa kasus migrain, fisioterapi bekerja dengan menargetkan gangguan pada sistem muskuloskeletal yang menjadi pemicu utama nyeri, seperti kekakuan otot leher, postur tubuh yang buruk, serta masalah psikologis. Adapun teknik-teknik untuk membantu mengurangi rasa nyeri, yaitu dengan terapi manual, seperti kompres hangat leher, peregangan otot leher, masase kepala, dan bisa dengan pemberian obat gosok ataupun obat herbal seperti kencur. Selanjutnya fisioterapi juga menggunakan pijatan di titik-titik akupresur (terapi akupresur). Kemudian ketika mengalami sakit kepala akibat masalah psikologis seperti rasa cemas, bisa diandalkan dengan pemutaran murottal Al-Qur’an secara mandiri.
Hal ini dapat diperkuat melalui data dan fakta oleh para ahli. Prevalensi sakit kepala di dunia menunjukkan bahwa kondisi ini bukan sekadar keluhan ringan, melainkan masalah kesehatan global yang berdampak luas. (Lindsay KW, et al, 2010) Studi prevalensi memperkirakan setengah sampai tiga perempat orang dewasa berusia 18-65 tahun di dunia telah menderita sakit kepala pada tahun sebelumnya (Hanum & Aliviani, 2023). Perkiraan prevalensi nyeri kepala seumur hidup adalah 66%: 14% hingga 16% untuk migrain, 46% hingga 78% untuk Tension Type Headache (TTH), dan 0,1% hingga 0,3% untuk cluster headache (10) (Chowdhury, 2012).
Efektivitas fisioterapi dalam menangani sakit kepala dapat dilihat dari berbagai contoh kasus sebagai berikut:

Figure 1. Upper cervical spine manipulation. The therapist uses the manipulative hand to localize the targeted segment (C1/C2) in rotation, and uses the hand to perform a high-velocity, low- amplitude technique directed up toward the patient’s contra- lateral eye (Fernández-De-Las-Peñas & Cuadrado, 2016).

Figure 2. Posterior-anterior upper cervical spine joint mobil- ization. The thumbs of the therapist make contact over the C1/ C2 zygapophyseal joint and a posterior-anterior glide is applied (Fernández-De-Las-Peñas & Cuadrado, 2016).

Figure 3. Manual compression applied on upper trapezius muscle trigger point (Fernández-De-Las-Peñas & Cuadrado, 2016).

Figure 4. Manual stroke addressing trigger points in the sternocleidomastoid muscle. The therapist’s fingers grasp the taut band from both sides with a pincer palpation, and stroke centrifugally away from the trigger point (Fernández-De-Las-Peñas & Cuadrado, 2016)

Figure 5. Therapeutic exercise consisting of cranio-cervical flexion exercise targeting the deep neck flexor muscles (Fernández-De-Las-Peñas & Cuadrado, 2016)

Figure 6. Dry needling applied over trigger points in the upper trapezius muscle (Fernández-De-Las-Peñas & Cuadrado, 2016)
Fisioterapi memiliki sejumlah kelebihan yang akan dianggap layak diprioritaskan dalam penanganan sakit kepala. Fisioterapi mampu memberikan efek jangka panjang karena menargetkan akar permasalahan. Selain itu, terapi pada fisioterapi relatif aman karena tidak melibatkan obat atau bahan kimia yang bisa membuat kita akan ketergantungan dan menimbulkan efek samping. Fisioterapi juga bersifat holistik, mencakup aspek fisik maupun psikologis melalui latihan relaksasi, teknik pernapasan, dan manajemen stres. Namun demikian, fisioterapi juga memiliki kekurangan seperti keterbatasan fisioterapi pada layanan primer, terapi membutuhkan waktu yang cukup lama agar hasilnya maksimal, dan pasien mau tidak mau harus konsisten dalam menjalani latihan di rumah tanpa seorang fisioterapis supaya hasil optimal.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fisioterapi merupakan pilihan yang aman tanpa obat, efektif, dan menyeluruh dalam menangani sakit kepala. Tingginya tingkat prevalensi sakit kepala dan adanya efek samping dari penggunaan obat menunjukkan perlunya penanganan alternatif. Melalui berbagai teknik manual, latihan terapeutik, edukasi postur, serta pengelolaan stres (refleksi otot, masase kepala, mendengarkan murottal, pijatan akupresur). Dengan demikian fisioterapi cocok sebagai pilihan utama untuk pendekatan aman dan efektif mengatasi nyeri, terutama kepada masyarakat yang menginginkan solusi menyeluruh tanpa ketergantungan pada obat.
DAFTAR PUSTAKA
Chowdhury, D. (2012). Tension type headache. Annals of Indian Academy of Neurology, 15(SUPPL.), 83–88. https://doi.org/10.4103/0972-2327.100023
Fernández-De-Las-Peñas, C., & Cuadrado, M. L. (2016). Physical therapy for headaches. Cephalalgia, 36(12), 1134–1142. https://doi.org/10.1177/0333102415596445
Hanum, P., & Aliviani, R. P. (2023). Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Akupresur untuk Mengatasi Sakit Kepala. Universitas Ngudi Waluyo, 2(2), 2023.
Al ‘Amali, M. K., Imandiri, A., & Sukardiman, S. (2019). Acupressure and Aromatic Ginger Herb for a Migraine. Journal Of Vocational Health Studies, 2(2), 80. https://doi.org/10.20473/jvhs.v2.i2.2018.80-85
Astuti. (2019). Pengaruh fisioterapi Kepala (massage kepala) terhadap penurunan nyeri kepala pada klien hipertensi di Rumah Sakit William Booth Surabaya. Jurnal Keperawatan, 3(2), 7. http://jurnal.stikeswilliambooth.ac.id/index.php/d3kep/article/view/10
Balita, H. D. A. N., & Hamil, I. (2021). 1 , 2 1,2. 1(4), 799–805.
Chaibi, A., Tuchin, P. J., & Russell, M. B. (2011). Manual therapies for migraine: A systematic review. Journal of Headache and Pain, 12(2), 127–133. https://doi.org/10.1007/s10194-011-0296-6
Prevention, D., Kejie, Z., & Qin, C. (2018). 张科杰 1 , 成 勤 2 2 (. 8(9), 52–57.
Raisa Zukhrufa, H., & Santoso, I. (2025). Efektivitas Myofascial Release dan Muscle Energy Technique Terhadap Kualitas Hidup Pasien Tension Type Headache. Jurnal Ilmiah Kedokteran Dan Kesehatan, 4(2), 242–256. https://doi.org/10.55606/klinik.v4i2.3841
Shalihah1, A. A., Rahim2, A. F., & Oktavianto3, D. (2024). Providing Physiotherapy Education for Tension Type Headache At Sanan Tempe Chips Workers, Malang City (Pemberian Edukasi Fisioterapi Untuk Tension Type Headache Pada Pekerja Keripik Tempe Sanan Kota Malang). 8(2), 9–12.


