Peran Fisioterapi pada Fase Awal Pemulihan Pasca Rekonstruksi ACL

Wa Ode Meutia Revalina
Mahasiswa Program Studi Fisioterapi
Universitas Muhammadiyah Malang

Cedera anterior cruciate ligament (ACL) merupakan salah satu cedera yang paling sering terjadi pada sendi lutut, khususnya pada atlet dan individu yang aktif melakukan aktivitas fisik. Cedera ini banyak ditemukan pada olahraga yang membutuhkan gerakan eksplosif seperti percepatan, perubahan arah mendadak, lompatan, atau pendaratan, contohnya futsal, basket, dan sepak bola. Mekanisme cedera dapat bersifat kontak maupun non-kontak, dengan kasus non-kontak lebih sering terjadi akibat kontrol neuromuskular yang kurang optimal. Kerusakan pada ACL menyebabkan instabilitas lutut, nyeri, pembengkakan, dan keterbatasan gerak sehingga dapat menghambat aktivitas fungsional. Jika tidak ditangani secara tepat, cedera ini dapat berujung kepada penurunan performa atlet, kelemahan otot, hingga risiko osteoartritis di masa depan. Oleh karena itu, intervensi medis yang tepat dan program rehabilitasi fisioterapi yang sistematis sangat diperlukan untuk memperoleh pemulihan fungsi lutut yang optimal.

Kerusakan pada ACL tidak hanya mengganggu stabilitas lutut, tetapi juga secara signifikan membatasi aktivitas fungsional seperti berjalan, menaiki tangga, berlari, hingga melakukan perubahan arah. Kondisi ini sering disertai kelemahan otot di sekitar lutut, terutama quadriceps dan hamstring, yang memperburuk kontrol gerak. Jika penanganan tidak dilakukan secara tepat dan terstruktur, pasien berisiko mengalami kekakuan sendi, penurunan rentang gerak, serta instabilitas berkelanjutan yang dapat memicu cedera ulang. Pada kasus pasca operasi, mengabaikan program rehabilitasi dapat memperlambat proses penyembuhan jaringan, meningkatkan pembengkakan, dan menghambat pemulihan fungsi lutut secara keseluruhan. Oleh karena itu, rehabilitasi yang tepat waktu dan berbasis protokol menjadikan komponen krusial untuk memastikan lutut dapat kembali berfungsi optimal dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Operasi rekonstruksi ACL menggunakan graft tendon hamstring merupakan prosedur yang banyak dipilih karena memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam mengembalikan stabilitas lutut. Meskipun demikian, hasil operasi tidak semata-mata ditentukan oleh teknik pembedahan, tetapi sangat bergantung pada kualitas dan konsistensi program rehabilitasi fisioterapi yang dijalankan setelahnya. Rehabilitasi yang terstruktur dan sesuai protokol berperan penting dalam membantu integrasi graft, mengembalikan kekuatan otot, serta memulihkan kontrol neuromuskular. Apabila pasien mengikuti program dengan baik, stabilitas sendi, pola gerak, dan kekuatan otot penunjang dapat pulih secara optimal, sehingga pasien dapat kembali beraktivitas tanpa rasa tidak stabil atau risiko cedera ulang.

Pemulihan rentang gerak sendi (ROM) dilakukan melalui latihan seperti heel slide yang berfungsi mencegah kekakuan dan membantu mempertahankan fleksibilitas lutut. Pada aspek penguatan otot, fokus latihan diarahkan pada otot quadriceps, hamstring, serta otot-otot stabilisator lutut lainnya. Latihan Straight Leg Raise bertujuan meningkatkan kekuatan quadriceps tanpa memberikan beban langsung pada sendi lutut (Lynch et al., 2012). Sementara itu, Quadriceps Set merupakan kontraksi isometrik yang digunakan untuk mengoptimalkan aktivasi otot quadriceps (Tashiro et al., 2003). Latihan Hamstring Set membantu mengurangi tekanan pada ACL sekaligus meningkatkan stabilitas lutut (Ichsan & Alpiah, 2024). Adapun Calf Raise berperan dalam memperkuat otot betis yang berkontribusi terhadap stabilitas postural (Gokeler et al., 2017). Selanjutnya, latihan Ankle Theraband ditujukan untuk meningkatkan kekuatan otot pergelangan kaki sebagai penunjang keseimbangan dan propriosepsi (Syafaat & Rosyida, 2020).

Kepatuhan pasien merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan keberhasilan program rehabilitasi pasca rekonstruksi ACL. Saat pasien disiplin menjalankan latihan sesuai instruksi fisioterapis, baik dalam frekuensi, teknik, maupun progresivitas, proses penyembuhan jaringan dapat berlangsung lebih optimal sehingga pemulihan fungsi lutut terjadi lebih cepat. Sebaliknya, ketidakpatuhan atau kesalahan dalam melakukan latihan dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti kekakuan sendi akibat kurangnya mobilisasi, atrofi otot karena minimnya aktivasi, hingga ketidakstabilitasan berkelanjutan yang meningkatkan risiko kegagalan pemulihan atau cedera ulang. Oleh karena itu, edukasi mengenai pentingnya latihan mandiri, teknik yang benar, serta pemantauan progres secara berkala menjadi aspek esensial dalam memastikan rehabilitasi berjalan efektif.

Perkembangan pasien selama rehabilitasi dievaluasi secara sistematis menggunakan beberapa instrumen klinis untuk memastikan pemulihan berjalan sesuai target. Tingkat nyeri dipantau melalui Numerical Rating Scale (NRS), yang membantu menentukan toleransi latihan dan efektivitas manajemen nyeri. Rentang gerak sendi diukur menggunakan goniometer, sehingga perubahan fleksibilitas dan kemampuan ekstensi-fleksi lutut dapat dilacak secara objektif dari sesi ke sesi. Selain itu, fungsi lutut secara keseluruhan dinilai melalui Lysholm Knee Scoring, yang menilai aspek stabilitas, pembengkakan, kemampuan berjalan, hingga aktivitas fungsional harian. Data yang diperoleh dari ketiga instrumen ini memberikan gambaran komprehensif mengenai progres pasien, sehingga fisioterapis dapat menyesuaikan intensitas, jenis latihan, dan tahapan rehabilitasi secara tepat untuk mencapai hasil pemulihan yang optimal.

Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas program rehabilitasi fisioterapi pasca rekonstruksi ACL melalui pendekatan studi kasus yang terstruktur. Dengan memantau perubahan pada tingkat nyeri, rentang gerak sendi, kekuatan otot, dan kemampuan fungsional pasien, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai respon pasien terhadap intervensi fisioterapi pada fase awal pemulihan. Hasil evaluasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi rehabilitasi yang lebih efektif, sehingga proses pemulihan berjalan lebih cepat, fungsi lutut kembali optimal, serta risiko cedera ulang dapat diminimalkan. Program rehabilitasi fisioterapi fase awal pasca operasi rekonstruksi ACL memiliki peran penting dalam memulihkan fungsi lutut secara optimal. Melalui intervensi terstruktur yang mencakup pengurangan nyeri, peningkatan rentang gerak sendi, aktivasi otot, dan penguatan kontrol neuromuskular, pasien dapat mengalami proses pemulihan yang signifikan. Evaluasi menggunakan NRS, goniometer, dan Lysholm Knee Scoring memberikan gambaran objektif mengenai perkembangan pasien, sehingga fisioterapis dapat menyesuaikan latihan secara tepat. Berdasarkan hasil studi kasus ini, rehabilitasi yang dilakukan dengan disiplin dan sesuai protokol terbukti membantu mempercepat pemulihan, meningkatkan stabilitas lutut, serta menurunkan risiko cedera ulang. Dengan demikian, kebrhasilan pemulihan pasca rekonstruksi ACL tidak hanya bergantung pada tindakan operasi, tetapi juga pada kualitas dan kepatuhan pasien dalam menjalani program rehabilitasi fisioterapi.

Referensi

Prasetyani, M., Rahman, F., & Saputro, S. (2025). Program Rehabilitasi Fisioterapi Fase Satu terhadap Pemulihan Pasca ACL Reconstruction: Studi Kasus. Jurnal Kesehatan Arrahma, 2(2), 98-108.

One thought on “Peran Fisioterapi pada Fase Awal Pemulihan Pasca Rekonstruksi ACL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *